Showing posts with label Elektronika. Show all posts
Showing posts with label Elektronika. Show all posts

Sunday, 20 April 2014

Cara Mengukur Tegangan DC

Cara Mengukur Tegangan DC-Salah satu kemampuan yang harus dikuasai oleh para hobiist elektronika yaitu mengukur tegangan DC. Seberapa pentingkah sehingga harus dikuasai?Sangat Vital.Perlu anda ketahui sebagian besar peralatan elektronika menggunakan tegangan DC Walaupun saat ini peralatan elektronika sudah terintegrasi dengan Power Suply yang mampu mengubah tegangan AC menjadi tegangan DC namun pada dasarnya yang dibutuhkan oleh rangakaian peralatan elektronika adalah tegangan DC.Bekerja atau tidaknya suatu peralatan elektronika tergantung dari tegangan yang masuk keperalatan tersebut kalau tegangannya sesuai  otomatis  langsung bekerja. Namun kalau tegangannya kurang atau lebih kemungkinan peralatan tidak bisa bekerja, bahkan kalau tegangannya berlebihan  bisa merusak komponen. Bagaimana Anda tahu kalau tegangannya sudah sesuai dengan kebutuhan rangkaian? Tentu dengan mengukur tegangan tersebut Bukan? Lalu bagaimana cara mengukur tegangan DC? Peralatan yang digunakan adalah Multimeter (Digital/Analog) langkah-langkahnya sebagai berikut.


Cara Mengukur tegangan Baterai atau Accu
Peralatan yang digunakan adalah Multimeter(Digital/Analog) caranya sebagai berikut;
1.Perkirakan berapa besar tegangan yang hendak anda ukur misalnya 12 volt.
2.Putar sakelar multimeter  pada posisi diatas perkiraan yaitu DCV 50
3.Tempelkan colok  merah multimeter kepada Kutub positif Baterai/Accu dan Kabel hitam multimeter kepada Kutub negatif baterai/accu.Ingat jangan sampai terbalik!
4.Jarum akan bergerak kekanan menunjuk angka tertentu.
Cara mengukur Tegangan Power suply/Adaptor.
1.Perkirakan berapa besar tegangan yang hendak anda ukur misalnya 12 volt
2.Putar sakelar multimeter pada posisi datas perkiraan yaitu DCV 50
3.Tempelkan colok  merah multimeter kepada keluaran positif (Biasanya kabel merah) Colok hitam multimeter  kepada keluaran negatif(Biasanya kabel hitam).
4.Jarum akan bergerak kekanan menunjuk angka tertentu.

Cara Mengukur Tegangan Dalam Rangkaian.
Cara Mengukur tegangan dalam rangkaian agak sedikit berbeda terutama  jika rangkaian tersebut bagian power suplynya menyatu dengan bagian lainnya misalnya pada Televisi,Mini compo,Hi-fi sehingga memerlukan kemampuan dalam membaca jalur rangkaian namun apabila rangkaian power suplynya terpisah misalnya pada Amplifier akan lebih mudah mengukurnya karena biasanya dalam PCB nya terdapat  keterangan  terminal positif maupun negative atau Ground.Apabila tidak ada keterangan sama sekali patokannya adalah  cari dulu jalur Groundnya biasanya jalurnya paling tebal dan selalu berhubungna dengan kutub negatif dari kondensator.Kemudian cari jalur positifnya cara termudah adalah mencari kondensator kutub positif yang  ukurannya paling besar baik nilainya atau tegangan  kerjanya(Working Voltage) biasanya dekat dengan dioda penyearah.Setelah keduanya  ditemukan baru bisa diukur tegangannya.Caranya sebagai berikut:
  1. Perkirakan berapa besar tegangan yang hendak anda ukur misalnya 24 volt
  2. Putar sakelar multimeter pada posisi diatas perkiraan yaitu DCV 50
  3. Tempelkan colok  merah multimeter kepada jalur positif  dan Colok hitam multimeter  kepada jalur Ground.
  4. Jarum akan bergerak kekanan menunjuk angka tertentu.

Saturday, 19 April 2014

Belajar Mengukur Arus dan Tegangan

Mengukur Arus dan Tegangan - Untuk mengetahui kebenaran dari hasil perhitungan arus, tegangan, dan resistansi dapat dilakukan pengukuran menggunakan alat ukur yang sesuai baik dengan multimeter analog ataupun dengan multimeter digital. Sebelum melakukan pengukuran harus dirangkai terlebih dahulu komponen-komponen elektronika yang tipe dan besarannya sama ketika melakukan perhitungan. Contoh, gambar di bawah adalah rangkaian terutup yang terdiri dari sumber tegangan dan tiga buah resistor yang dirangkai seri. Jika dalam perhitungan V= 15 V, R1 = 1 KΩ, R2 = 4.7 KΩ, dan R3 = 10 KΩ, maka untuk membandingkan perhitungan dengan hasil pengukuran harus dirangkai komponen-komponen tersebut dengan nilai-nilai dan koneksi yang sama persis.
Komponen-komponen tersebut dapat dirakit (dipasang) pada PCB (Printed Circuit Board) dengan cara disolder atau dapat dipasang pada bread board atau project board. Komponen-komponen tersebut terdiri dari power supply DC 15 Volt (dipasang diluar) dan tiga buah resistor 1/2 Watt dengan warna gelang sebagai berikut:
  1. 1 KΩ = Coklat, Hitam, Merah, dan Mas
  2. 4.7 KΩ = Kuning, Ungu, Merah, dan Mas
  3. 10 KΩ = Coklat, Hitam, Orange, dan Mas
Lebih jelas mengenai warna-warna tersebut dapat di lihat pada tabel kode warna resistor. Setelah semua komponen dirakit, kita dapat mulai mengukur arus dan tegangan untuk membandingkan dengan hasil perhitungan sebelumnya.

Cara mengukur tegangan pada rangkaian seri

  1. Rakit (pasang) semua komponen resistor R1, R2, dan R3 seperti gambar di bawah pada PCB atau pada breadboard (project board).
  2. Hubungkan dengan adaptor atau power supply DC 15 Volt.
  3. Siapkan alat ukur (multimeter)
  4. Nyalakan power supply
  5. Atur selector pada multimeter agar berada pada posisi Volt Meter dengan skala yang benar. Pengaturan skala yang salah pada multimeter analog dapat merusak alat ukur tersebut karena jarum penunjuk akan bergerak terlalu cepat.
  6. Ukur tegangan di R2 dimana probe (+) ditempelkan pada kaki R2 yang paling dekat dengan tegangan sumber positif dan probe (-) harus diletakan pada kaki R2 yang paling dekat dengat sumber tegangan negatif. Jika menggunakan multimeter analog, kondisi ini jangan sampai terbalik karena dapat mengakibatkan kerusakan pada alat ukur.
  7. Lihat hasil pengukuran yang ditunjukan oleh jarum penunjuk atau pada displaydigit  angka jika menggunakan multimeter digital.
  8. Catat hasilnya dan bandingkan dengan hasil perhitungan.
Mengukur Tegangan
Mengukur Tegangan dengan Multimeter

Cara mengukur arus pada rangkaian seri

Jika kita akan mengukur arus pada rangkaian seri seperti di bawah yang terdiri dari sumber tegangan dan dua buak resistor R1 dan R2, maka kita tidak bisa melakukan pengukuran secara langsung seperti mengukur tegangan sebelumnya dengan multimeter biasa. Oleh karena itu jalur pada rangkaian tersebut harus diputus terlebih dahulu seperti pada gambar.
  1. Putuskan jalur penghubung rangkaian seperti pada gambar di bawah atau di antara R1 dan R2
  2. Siapkan alat ukur analog atau digital (khusus alat ukur analog, penempatan probe (+) dan probe (-) tidak boleh terbalik)
  3. Atur selector multimeter agar berada pada posisi Ampere Meter dengan skala yang benar (pengaturan skala yang terlalu kecil pada multimeter analog dapat merusak alat ukur tersebut karena melewati batas maksimal/ range yang diperbolehkan)
  4. Letakan probe (+) pada salah satu hubungan yang diputus tadi yang paling dekat dengan sumber tegangan positif dan probe (-) diletakan pada sisi yang lainnnya (perhatikan gambar dan jangan sampai terbalik)
  5. Lihat hasil pengukuran
  6. Catat hasil pengukuran arus dan bandingkan dengan hasil perhitungan
Mengukur Arus
Mengukur Arus dengan Multimeter

Cara lain mengukur arus pada rangkaian seri

Pegukuran arus dapat dilakukan langsung tanpa memutus jalur rangkaian seperti sebelumnnya jika menggunakan alat ukur khusus yakni Clamp Ampere (Tang Ampere). Dengan alat ukur ini kita dapat mengukur arus dengan cara melingkarkan clamp pada meter tersebut mengelilingi jarus arus yang akan kita ukur seperti pada gambar di bawah. Cara ini lebih simpel dan lebih mudah karena tidak perlu melakukan pemutusan jalur rangkaian, hanya saja alta ukur ini harganya cukup mahal.
Mengukur ArusMengukur Arus dengan Clamp Ampere
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum mengukur arus dan tegangan
  1. Perhatikan jenis alat ukur yang digunakan karena alat ukur jenis analog yang menggunakan indikator jarum penunjuk lebih beresiko rusak jika penggunaannya salah.
  2. Pengaturan selector atau mode pada multimeter digital harus benar (Ampere Meter untuk mengukur arus, Volt Meter untuk mengukur tegangan, dan Ohm Meter untuk mengukur resistansi. Jangan sampai terbalik).
  3. Pengaturan skala atau range harus benar khususnya untuk multimeter analog karena tidak mempunyai sensor over load (OL) sehingga pengaturan skala yang terlalu kecil dapat merusak alat ukur tersebut.

Friday, 18 April 2014

Trafo atau Transformator I Mengenal Trafo atau Transformator

Trafo atau transformator merupakan salah satu komponen elektronika sekaligus komponen listrik yang berfungsi untuk menaikan dan merurunkan tegangan AC (bolak balik).  Notasi trafo ditulis dengan huruf “T” besar atau “Tr” sedangkan satuannya adalah Ampere (A). Satuan trafo tersebut adalah kemampuan maksimal untuk mensuplay arus listrik. Misalnya trafo dengan kapasitas 5 Ampere artinya trafo tersebut mampu mensuplay sampai dengan 5 Ampere, demikian juga dengan trafo 500 mA yang hanya mampu mensuplay arus sampai dengan 500 mili Ampere. Simbol trafo dapat dilihat pada gambar di bawah.


Besarnya tegangan bolak-balik yang dapat dihasilkan oleh trafo bervariasi tergantung dari jenis dan produk trafo. Namun demikian berapapun tegangan output yang dihasilkan, arus maksimal keluarannya tetap sama yakni sesuai dengan label yang tertera pada fisik trafo. Di pasaran, terdapat beberapa jenis trafo di antaranya trafo (0) yakni trafo yang memiliki terminal 0 Volt dan terminal dengan tegangan lain misalnya 3 Volt, 4.5 Volt, 5 Volt, 9 Volt, 12 Volt, dan seterusnya. Tegangan keluaran trafo diambil dari terminal (0) dan terminal tegangan lain. Jenis lainnya adalah trafo CT yakni trafo atau transformator yang mempunyai tegangan keluaran simetris. Tegangan keluaran di sebelah kiri terminal CT sama dengan tegangan keluaran di sebelah kanan terminal CT. Misalnya pada trafo dengan label 12 V – CT – 12 V,  jika diukur dari terminal 12 V dan CT (baik yang kiri ataupun yang kanan) maka akan terukur tegangan bolak-balik 12 Volt, tetapi jika diukur dari terminal 12 V sebelah kiri CT dan terminal 12 V sebelah kanan CT, maka tegangan yang terukur adalah 24 Volt. Jika yang diukur adalah termianl 9 V sebelah kiri CT dan terminal 12 V pada terminal di sebelah kanan CT, maka tegangan yang terukur adalah 21 Volt.

Pada jaringan listrik tegangan tinggi, trafo atau transformator berfungsi untuk menurunkan tegangan tinggi AC (Bolak-balik) menjadi tegangan rendah misalnya 220 Volt AC  yang akan disalurkan ke masyarakat. Di dunia elektronika, trafo banyak digunakan pada rangkaian regulator/adaptor/power supply yang berfungsi menurunkan tegangan dari PLN sebesar 220 Volt AC menjadi tegangan AC yang lebih kecil sesuai keperluan, mislnya 9 Volt, 12 Volt, dan 15 Volt. Pada rangkaian power supply, tegangan AC yang sudah diturunkan kemudian disearahkan menjadi tegangan DC untuk mensuplay peralatan elektronik.

Trafo atau transformator bekerja berdasarkan induksi magnet akibat arus bolak-baik yang masuk ke kumparan input trafo atau ke bagian kumparan primer. Perbandingan antara input dan output trafo dapat digunakan rumus berikut:

Vp/Np = Vs/Ns
Vp : Tegangan Primer (input)
Vs : Tegangan Sekunder (output)
Np : Jumlah Lilitan Primer
Ns : Jumlah Lilitan Sekunder

Berdasarkan fungsinya terdapat beberapa jenis trafo yaitu:
  1. Step-Up Transformator  : Trafo yang berfungsi untuk menaikan tegangan bolak-balik
  2. Step-Down Transformator : Trafo yang berfungsi untuk menurunkan tegangan bolak-balik
  3. Auto Transformator : Trafo yang hanya mempunyai satu lilitan dimana lilitan ini merupakan lilitan primer sekaligus lilitan sekunder.
  4. Isolator Transformator : Trafo yang mempunyai jumlah lilitan primer sama dengan jumlah lilitan sekunder sehingga tegangan input akan sama dengan tegangan output. Trafo jenis ini berfungsi sebagai isolasi dua bagian yaitu sebelum trafo dan sesudah trafo.
  5. Three Phases Transformator : Trafo yang mempunyai tiga terminal di bagian primer dan tiga terminal lagi di bagian sekunder yang digubungkan secara delta (Δ) dan secara bintang (Υ).

Sunday, 13 April 2014

Membaca Kode Warna Pada Resistor

Membaca Kode Warna Pada Resistor
Cara membaca kode warna resistor, Variable Resistor, Komponen Pengganti dan Satuan Resistor. Jika dibandingkan dengan komponen elektronika yang lain saya pikir Resistor yang paling mudah dipahami walaupun anda belajar secara otodidak namun jangan lupa tidak cukup hanya membaca teorinya saja alangkah baiknya langsung praktek dengan mengamati secara langsung 
Apa Kegunaan Resistor?
Resistor banyak digunakan dalam rangkaian elektronika untuk
  1. Membagi tegangan listrik
  2. Pembagi arus pada rangkaian paralel
  3. Menurunkan tegangan listrik 4.Pemikul beban (Load resistance)

Cara Membaca Kode Warna Resistor
Kebanyakan Resisitor yang akan sering anda jumpai ketika praktek adalah resistor yang menggunakan kode warna untuk menyatakan besarnya hambatan listrikdan biasanya resistor jenis karbon dan Metal film. Anda bisa mengetahui besaranya hambatan listrik dengan membaca kode warna tersebut caranya sebagai berikut:
Urutan Kode warna : Hitam, Coklat, Merah, Oranye, Kuning, Hijau, Biru, Ungu, Abu-Abu, Putih Untuk lebih jelasnya silahkan lihat gambar dibawah ini:


Untuk resistor yang memiliki 4 gelang warna(Resistor Karbon):
Gelang ke 1 Menyatakan =Angka ke 1
Gelang ke 2 Menyatakan =Angka ke 2
Gelang ke 3 Menyatakan  banyaknya /Faktor Perkalian(10⁰-10⁹)
Gelang ke 4 Menyatakan =Toleransi.Coklat 1% Merah 2% Hijau 0.5% Biru 0,25% Ungu 0,1% Abu-abu 0,05% Emas 5% Perak 10% Tak berwarna 20% Yang Umum digunakan Emas,Perak dan Coklat.
Contoh Sebuah Resistor memiliki warana Abu-abu merah oranye emas nilainya berarti:
Gelang ke 1 =Abu-abu=8(Angka ke 1)
Gelang ke 2=Merah=2(Angka ke 2)
Gelang ke 3=Oranye=10³=1000(Faktor Perkalian)
Gelang ke 4=Emas=5%(Toleransi)
Jadi nilai resistor tersebut=82x1000=82.000 Ohm
Anda tentu akan bertanya-tanya Angka ke 4/Toleransi Maksudnya apa?
Jawaban ringkasnya nilai resistor yang masih bisa ditolerir jika ternyata nilai resistor tersebut ketika diukur dengan ohmmeter tidak sesuai dengan kode warnanya. Dari contoh diatas nilai resistor=82.000 Ohm toleransi 5%=5/100x82.000=4100 Ohm Jadi Nilai resistor Maksimum 82.000+4100=86100 Ohm sedangkan Nilai Minimum=82.000-4100=77900 Ohm. Kesimpulannya jika sebuah resistor dengan kodewarna Abu-abu Merah Orange Emas nilainya antara 77900-86100 Ohm artinya resistor tersebut masih baik.Oleh karena itu cara mengetahui nilai resistor yang paling akurat yaitu menggunakan multimeter.
Untuk resistor yang memiliki 5 gelang warna (Resistor Metal Film)
Gelang ke-1 Menyatakan Angka ke 1
Gelang ke 2- Menyatakan Angka ke 2
Gelang Ke 3 Menyatakan =Angka ke 3
Gelang ke 4 Menyatakan jumlah Nol/Faktor Perkalian
Gelang Ke 5 Menyatakan =Toleransi
Contoh sebuah Resistor memiliki  warna : Merah, Coklat, Merah, Oranye dan Emas maka nilainya berarti=212x1000=212000 Ohm Toleransinya 5%

Variable Resistor.
Besarnya hambatan listrik sebuah resistor  bisa diketahui dengan melihat kode warna atau nilai yang tertera langsung di bodinya dan nilainya tidak akan berubah kecuali jika mengalami kerusakan  namun ada jenis resistor yang nilai hambatannya bisa berubah-ubah namanya variable resistor atau disingkat VR. Bahannya ada yang terbuat dari zat arang  adapula yang terbuat dari kawat nikelin. Contoh yang paling mudah terdapat pada pengatur volume/bass/treble speaker aktif, pengatur volume pada Compo dan lain-lain. Dilihat dari cara kerjanya VR dibedakan menjadi 2 yaitu Potensiometer  dan trimpot
Keterangan :
Potensiometer cara merubah hambatannya biasanya dengan cara memutar As nya kekiri kekanan atau menggeser dari  atas kebawah 
Sedangkan Trimpot cara merubah hambatannya dengan cara mengetrim menggunakan obeng.

Komponen Pengganti.
Masalah yang terkadang muncul ketika merakit suatu rangkaian elektronika yaitu tidak tersedianya komponen yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Cara mengatasinya anda bisa mempergunakan komponen pengganti yang nilainya sama. Untuk resistor komponen pengganti bisa anda dapatkan dengan menggabung 2 resistor atau lebih bisa dengan hubungan seri atau paralel namun yang paling mudah menggunakan hubungan seri karena anda tinggal menjumlahkan semua resistor contohnya jika anda ingin mengganti Resistor yang nilainya 100 Ohm dengan  anda tinggal menggunakan 2 resistor ukuran 50 Ohm. Sedangkan bila menggunakan hubungan paralel agak sedikit ribet karena perhitungannya menggunakan pembagian.

Satuan Resistor
1 Kilo ohm atau 1K Ohm = 1000 Ohm
1Mega ohm atau 1M = 1000 kilo ohm
1K2 Ohm= 1200 Ohm
1M9 Ohm=1900K Ohm
1R2 Ohm= 1,2 Ohm

Saturday, 12 April 2014

Dioda / Diode I Mengenal Dioda atau Diode

Dioda/Diode adalah komponen elektronika aktif yang mempunyai dua kaki (terminal) yaitu anoda/anode (A) dan katoda/katode (K). Dioda mempunyai banyak varian di antaranya dioda biasa, dioda zener, light emiting diode (LED), dan photo diode. Setiap dioda tersebut mempunyai fungsi masing-masing dan bahan pembuatnya pun berbeda. Simbol dioda biasa dapat dilihat pada gambar di bawah.








Dioda/Diode biasa dibuat dari bahan germanium dan silicon yang dapat berfungsi sebagai penyearah tegangan AC (jika dipasang forward). Forward adalah pemasangan dioda dimana kaki anoda diberi arus positif atau kaki katoda diberi arus negatif. Dalam kondisi tersebut arus lisatrik dapat mengalir melalui komponen dioda. Jika dipasang sebaliknya, maka arus tidak akan mengalir melalui dioda, kondisi ini disebut reverse.

Dengan demikian jika pada sebuah rangkaian seri tertutup yang terdiri dari battery (sumber tegangan DC), resistor, dan lampu DC, maka lampu akan menyala jika dioda dipasang forward dan lampu akan padam jika dioda dipasang reverse. Drop tegangan pada dioda forward untuk bahan silicon adalah 0.6 – 0.7 Volt dan untuk bahan germanium adalah 0.2 – 0.3 Volt.

Dalam rangkaian elektronika dioda sering digunakan pada rangkaian regulator/power supply, pengurang tegangan, dan sebagai pengaman polaritas. Adapun jenis-jenis dioda (keluarga dioda) di antaranya adalah:
  1. Dioda Biasa (yang sedang dibahas)
  2. Dioda Schottky
  3. Dioda Terowongan
  4. Dioda Zener
  5. LED (Light Emiting Diode)
  6. Dioda Foto (Photo Diode)
  7. SCR
Dioda/Diode terbuat dari bahan semikonduktor tipe P (positif) dan tipe N (negatif) yang digabungkan sehingga terbentuk dua kaki yakni anoda (A) yang terhubung dengan semikonduktor tipe positif dan katoda (K) yang terhubung dengan semikonduktor tipe negatif.

Untuk mengetahui baik tidaknya komponen dioda dapat dilakukan dengan cara membuat rangkaian seri seperti tadi atau dengan cara diukur menggunakan AVO Meter pada selector Ohm Meter. Pastikan probe positif  AVO Meter ditempel pada kaki anoda dan probe negatif AVO Meter pada kaki katoda. Dioda yang masih baik dan layak pakai harus menunjuk angka tertentu (pada AVO Meter Digital) dan jarum harus bergerak mendekati nol (untuk AVO Meter Analog). Jika probe AVO Meter dipasang sebaliknya, maka jarum harus diam (tidak bergerak) untuk AVO Meter Analog atau display menunjukan OL (Over Load/ tak terhingga) untuk AVO Meter Digital.  Jika indikator pada AVO Meter menunjukkan sebaliknya, artinya dioda/diode tersebut sudah rusak.


Tuesday, 8 April 2014

Mengenal Kapasitor Lebih Jauh serta Fungsi dan Variabelnya

Capacitor adalah salah satu komponen pasif elektronika yang mempunyai peran penting dalam suatu sistem rangkaian elektronika. Istilah lain dari capacitor adalah condensator, dalam bahasa Indonesia sering ditulis dengan kapasitor atau kondensator. Satuan capacitor adalah Farad (F) dimana 1 Farad = 1.000 mF (mili Farad), 1 mF = 1.000 μF (micro Farad), 1 μF = 1.000 nF (nano Farad), dan 1 nF = 1.000 pF (pico Farad). Capacitor dapat menyimpan arus listrik untuk sementara waktu dengan karakteristik dapat melalukan arus AC dan menahan arus DC.

Fungsi Capacitor

Di dalam dunia elektronika (Electronics Technology), capasitor/ condensator mempunyai banyak fungsi jika dikombinasikan dengan komponen elektronika lain di antaranya:
  1. Sebagai penyaring (filter) pada rangkaian regulator DC atau power supply untuk meminimalisir tegangan ripple AC yang masih tersisa
  2. Sebagai pembangkit pulsa (frekuensi) dalam rangkaian oscilator
  3. Sebagai penggeser phasa
  4. Sebagai coupling yakni penghubung antara dua buah rangkaian elektronika seperti pada rangkaian penguat (amplifier) yang menghubungkan rangkaian Pre Amp dengan Amplipier

Simbol Capacitor

Ada beberapa simbol/ lambang capacitor/ condensator yang sering dipakai di dalam skema diagram. Simbol-simbol tersebut menggambarkan jenis dari capacitor/condensator tersebut, sedangkan nilai dari capacitor umumnya di tulis di samping simbol tersebut. Notasi capacitor adalah “C” dengan satuan Farad (F).


Simbol Capacitor Nonpolar
Capacitor ini tidak mempunyai polaritas sehingga dalam pemasangannya dapat bolak-balik dan umumnya berkapasitas kecil (pico Farad atau nano Farad). Capacitor ini sering dipakai dalam rangkaian yang berhubungan dengan frekuensi seperti dalam rangkaian penguat audio (amplifier).


Capacitor Bipolar
Capacitor jenis ini mempunyai dua polaritas yaitu positif dan negatif sehingga dalam pemasangannya tidak boleh terbalik. Capacitor ini umumnya berkapasitas cukup besar yakni dalam satuan micro farad (μF) sampai dengan mili Farad (mF). Capacitor ini biasa dipakai sebagai filter dalam rangkaian penyearah (rectifier).


Variable Capacitor
Capacitor jenis ini tidak memiliki polaritas tetapi nilai kapasitansinya dapat diatur secara manual. Variable capacitor biasanya berkapasitas antara 100 pF sampai dengan 500 pF (pico Farad) dan sering digunakan dalam rangkaian radio untuk mengatur frekuensi. Istilah lain dari variable capacitor adalah varco (variable condensator).



Jenis Kapsitor Polar dan Non Polar

Kode Warna dan Angka pada Capacitor

Untuk mengetahui besarnya kapasitas dari sebuah capacitor/ condensator dapat dilihat dari label yang tertera pada fisik komponen tersebut atau dengan cara diukur menggunakan Capacitance Meter. Namun demikian tidak semua jenis capacitor berlabelkan nilai kapasitas tetapi diwakili dengan kode angka atau dengan kode warna seperti halnya resitor. Berikut adalah tabel konversi warna capacitor.

WARNA Ke-1 Ke-2 Ke-3 Ke-4 Ke-5
J K L M N
Hitam 0 0 100 20% 4 100 10 10
Coklat 1 1 101 1% 6 200 100 1.6
Merah 2 2 102 2% 10 300 250 4 35
Orange 3 3 103 3% 15 400 40
Kuning 4 4 104 4% 20 500 400 6.3 6
Hijau 5 5 105 5% 25 600 16 15
Biru 6 6 106 - 35 700 630 20
Ungu 7 7 - - 50 800
Abu 8 8 - - 900 25 25
Putih 9 9 - - 3 1000 2.5 3
Mas - - 10-1 5% 2000
Perak - - 10-2 10%

Penjelasan
  1. Warna pada band ke-1 dan band ke-2 menunjukkan angka atau nilai dalam pF (pico Farad)
  2. Warna pada band ke-3 adalah multiplier (faktor pengali)
  3. Warna pada band ke-4 adalah toleransi untuk kapasitas di atas 10 pF
  4. Warna pada band ke-5 adalah maksimal tegangan dalam Volt (V) untuk setiap tipe condensator yang berbeda. J= Capacitor Tantalum, K = Capacitor Mica, L = Capacitor Polyester, M = Capacitor Electronite 4 Warna, dan N = Capacitor Electrolite 3 Warna
Contoh
Condensator dengan warna Kuning, Ungu, Merah, Hitam mempunyai kapasitas sebagai berikut:
  1. Kuning = 4 (nilai ke-1)
  2. Ungu = 7 (nilai ke-2)
  3. Merah = 10(faktor pengali yaitu 100)
  4. Hitam = 20% (toleransi)
Jadi kapasitanya adalah
= 47 x 102
= 47 x 100
= 4.700 pF (pico Farad)
= 4.7 nF (nano farad)
Capacitor yang tidak mempunyai kode warna biasanya diganti dengan angka yang nilainya sama denagn urutan warna di atas. Contoh:
  1. 100 = 10 x 100 => 10 x 1 => 10 pF => 0.01 nF
  2.  472 = 47 x 102 => 47 x 100 => 4.700 pF => 4.7 nF
  3. 220 =  22 x 100  => 22 x 1 => 22 pF => 0.022 nF
  4. 683 = 68 x 10=> 68 x 1.000 => 68.000 pF => 68 nF
  5. 103 = 10 x 10=> 10 x 1.000 => 10.000 pF => 10 nF
  6. dan seterusnya

Sunday, 6 April 2014

Mengenal Resistor I Belajar Elektronika

Memahami Dasar-dasar elektronika termasuk Komponen Elektronika bagi Anda yang ingin mempelajari Elektronika adalah sangat vital Bagaimana tidak? Semua rangkaian elektronik terdiri dari komponen-komponen seperti Resisitor, Kondensator, Transisitor dan lain-lain yang kemudian dirangkai sedemikian rupa membentuk satu kesatuan menjadi piranti elektronik yang beraneka ragam. Oleh karena itu Anda harus memahami kegunaan, jenis, cara mengukur/menguji, Cara pemasangan dan lain-lain setiap komponen elektronika. Kali ini saya mencoba berbagi informasi khusus tentang Komponen Elektronika Resistor namun supaya mudah dipahami saya mempersempit bahasannya hanya seputar Jenis-jenis resisitor untuk pembahasan hal-hal lainnya bisa saya informasikan dipostingan berikutnya. Langsung saja berikut ini jenis-jenis resistor selengkapnya


1. Carbon Resistor.
Resisitor jenis ini biasanya memiliki toleransi 5% atau 10%,ada 3 buah garis warna dan warna keempat menunnjukkan nilai toleransi yang ditandai dengan warna emas dan perak.
2. Metal Film Resisitor.
Resisitor jenis ini memiliki toleransi 1%,ada 4 garis warna dan warna kelima menunjukkan nilai toleransi atau berwarna coklat.Jika suatu saat anda ingin merakit rangkaian audio misalnya tone control agar performanya meningkat untuk jalur tertentu gunakan resisitor jenis metal film minimal pada jalur feed back serta jalur-jalur yang dilalui sinyal suara.Cara mencari jalur feedback yaitu cari resistor yang terhubung antara jalur speaker kebagian disekitar rangkaian input amplifier dan cari resistor yang terhubung ke ground melalui capasitor.
3. Resistor Kawat atau Spiral. 
Resistor jenis ini biasanya memiliki nilai dibawah 1 ohm misalnya 0,5 ohm,0,47 ohm,0,33 ohm,0,22 ohm atau nilai-nilai lainnya.Resistor jenis ini memiliki ukuran daya diatas 2 watt  umumnya yang banyak dipakai ukuran 5 watt.
4. Resistor NTC(Negative Temperature Coefficient) & Resistor PTC(Positive Temperature Coefficient).
Resistor jenis ini lebih dikenal dengan istilah Termistor.Nilai resistor jenis ini tergantung suhu  disekitarnya.Nilai resistansi resistor NTC akan turun jika suhu disekitarnya Naik sedangkan Resisitor PTC resistansinya naik kalau suhunya naik.Biasanya resistor jenis ini dimanfaatkan sebagai sensor suhu misalnya untuk Kipas Angin .Jika Anda mempunyai problem dengan alat tersebut Cobalah Buka sendiri untuk kipas angin biasanya dipasang dan ditanamkan secara langsung kedalam gulungan kawat spoel ,Carilah jika ada sambungan yang gendut itulah letak resistor PTC kemudian cek dengan multitester jika memang rusak harus diganti.
5. Resisitor Peka Cahaya atau LDR (Light Diode Resistor).
Resistor jenis ini Nilainya tergantung intensitas cahaya,resistansinya sangat tinggi dalam gelap(Kira-kira 10 M ohm).Pemanfaatannya biasanya untuk rangakaian Alarm.

Friday, 4 April 2014

Cara Menggunakan Multimeter

Cara Menggunakan Multimeter merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dikuasai jika Anda ingin belajar elektronika.Sebelumnya saya sudah berbagi informasi tentang Peralatan kerja Elektronika salah satunya Multimeter. Jika dibandingkan dengan peralatan lainnya multimeter merupakan peralatan yang paling penting dengan kata lain Multimeter itu tangan kanan bagi seorang teknisi elektronika.Bagaimana tidak dengan sebuah alat bisa membantu banyak pekerjaan dari menguji komponen yang akan dirakit, Mengukur Hambatan, Mengukur tegangan sampai mengukur Arus listrik. Perlu anda ketahui pada prinsipnya pada prinsipnya sebuah multimeter memiliki 3 fungsi pokok yaitu: Ohmmeter untuk mengukur besaran hambatan listrik,Voltmeter untuk mengukur besaran tegangan listrik dan Amperemeter untuk mengukur arus listrik.
Mengingat begitu pentingnya kegunaan multimeter kali ini saya akan berbagi informasi tentang Cara Menggunakan Multimeter namun untuk mempersempit pembahasan saya hanya membahas Multimeter Jenis Analog.Berikut ini tutorial selengkapnya:

Cara menggunakan Ohmmeter
Ohmmeter dapat dipergunakan untuk:
1.Mengukur besarnya nilai hambatan Resistor,caranya sebagai berikut:
  • Putar sakelar pemilih pada posisi yang dikehendaki(Rx1/Rx10/Rx1k/Rx10k)
  • Colokkan kabel merah ke lubang positif dan kabel hitam kelubang negatif multimeter.
  • Hubungkan colok kabel merah dan colok kabel hitam jarum akan bergerak kekanan
  • Aturlah hingga jarum menunnjuk tepat angka nol dengan memutar pengatur nol yang berada disebelah kanan.
  • Lepaskan kembali colok kabel merah dan hitam jarum akan kembali keposisi semula.
  • Tempelkan colok merah di kaki resistor dan colok hitam dikaki lainnya bisa dengan tanpa sentuhan tangan atau bisa juga dengan dipegang dengan tangan dengan catatan hanya satu tangan jangan kedua tangan memegang resistor.
  • Jarum akan menunjuk angka teretentu
HP=PJxBU
HP=Hasil Pengukuran
PJ=Penunjukkan Jarum
BU=Batas Ukur
2.Menguji Putus atau tidaknya sebuah penghantar.
Untuk menguji  putus atau tidaknya sebuah penghantar Misalnya Anda ingin menguji sebuah gulungan kawat, kabel atau jalur PCB yang tipis caranya sebagai berikut:
  • Gunakan saklar pada posisi Rx1k
  • Tempelkan colok kabel merah pada salah satu ujung dan colok hitam pada ujung lainnya.
  • Bila jarum bergerak kekanan berarti kawat tidak putus sebaliknya jika jarum tidak bergerak berarti kawat putus.Jika multimeter tersebut memiliki fitur Buzz  anda bisa menggunakan saklar pada posisi Buzz jika kedua colok ditempelkan keujung kabel maka jika kawatnya tidak putus maka multimeter akan berbunyi.
  • Menguji Kondensator,Dioda ,Transistor dan Transformator.Silahkan lihat Menguji Komponen.
Cara menggunakan Voltmeter AC.
Menurut saya pada prakteknya sebenarnya jarang sekali menggunakan Voltmeter AC  karena kebanyakan rangkaian elektronika menggunakan tegangan DC.Meskipun demikian Voltmeter  AC tetap dibutuhkan terutama untuk para Teknisi Televisi  misalnya untuk mengukur tegangan powersuplynya.Voltmeter AC juga bisa digunakan untuk mengukur tegangan AC listrik PLN atau Generator.Jika Listrik dirumah anda stabil saya pikir tidak perlu diukur tegangannya.
Cara Menggunakan Amperemeter.
Sama seperti Voltmeter AC  Amperemeter juga jarang digunakan.Amperemeter digunakan untuk mengukur besarnya arus listrik DC yang mengalir pada rangkaian.Umumnya multimeter hanya bisa mengukur arus listrik DC sampai 500 mA saja.

Tutorial Cara menggunakan Multimeter diatas menurut saya tidak sulit untuk dikuasai asalkan langsung dipraktekkan Mudah-mudahan bermanfaat!